Audiensi Terakbar Tahun Ini Jadi Ajang Sosialisasi Kebijakan Rektorat

Purwokerto, 22 Mei 2020

Rabu, 20 Mei 2020, telah dilaksanakan audiensi dari gerakan kolektif perwakilan mahasiswa Unsoed bersama dengan pihak rektorat dan jajarannya. Setelah sebelumnya media sosial diramaikan dengan aksi media #unsoedjutek yang digagas oleh gerakan kolektif dari BEM Unsoed dan BEM/perwakilan fakultas yang ada di Unsoed. Audiensi tersebut dihadiri oleh pihak rektorat dan perwakilan mahasiswa, dari pihak rektorat dihadiri oleh rektor beserta wakil rektor bidang 1, 2, dan 3, serta kepala biro keuangan dan kepala biro akademik & mahasiswa, sedangkan dari perwakilan mahasiswa dihadiri oleh BEM Unsoed, dan BEM Fakultas, antara lain, Fapet, FT, KBMIK, FH, FEB, FK, FPIK, serta UKM Rizhome Fisip, perwakilan mahasiswa dari FIB dan Fabio, dan BEM KM Mipa.

Audiensi tersebut mengalami hambatan akibat gangguan koneksi internet yang membuat pelaksanaan audiensi kali ini terlambat sehingga dimulai pada pukul 10.21 WIB, dari yang sebelumnya dijadwalkan dimulai pada pukul 10.00 WIB. Wisnu (Menteri Adkesma BEM Unsoed) menjelaskan keterlambatan tersebut, “Sebenarnya kesepakatan awal kita dengan pihak rektorat itu dengan waktu sendiri ya seharusnya mulai kita menyampaikan aspirasi jam 10. Tapi karena kendala banyak audiens mahasiswa yg belum dapat link gmeet nya selain itu pulaa dari sananya pun belum ada persiapan yg mengharuskan audiensi berjalan secara ontime gtu.” jelasnya saat kami diberi kesempatan mewawancarainya via daring. Wisnu juga menjelaskan, sebelumnya belum ada kesepakatan dari rektorat kepada perwakilan mahasiswa terkait durasi waktu audiensi, “Terkait waktu juga sih tidak ada omongan durasi waktu berapa jam dari rektorat kepada mahasiswa, tiba-tiba mereka memberikan alokasi waktu selesai jam 12, padahal jika kita ketahui pada awalnya mereka memberi waktu kita mulai audiensi dan start itu jam 10. Jadi harusnya kan itu durasinya 2 jam ya, nah sementaraa kita mulai pada pukul 10.21, seharusnya jika kita memakai durasi 2 jam selesainya pun pukul 12.21 juga” jelasnya. Kendala lainnya juga dikarenakan tidak adanya moderator dari perwakilan mahasiswa, sehingga terkesan pihak rektorat yang menguasai jalannya forum, “Kendalanya tidak adanya moderator dri mahasiswa jadi seakan pihak rektorat ini yg menguasai jalannya forum, padahal disini adalah penyampaian aspirasi dari maahsiswa bukan menjadi seperti layaknya sosialisasi kebijakan” pungkasnya.

Wisnu juga menilai pihak rektorat juga tidak menjawab beberapa poin yang dibawa di audiensi, dan cenderung melenceng dari poin yang dibawa, “Kesan rektorat tidak menjawab semua 3 poin yang kami bawa di audiensi, mereka hanya menjelaskan terkait siaran pers yang baru hari senin terbit, dan melenceng kemana mana tidak menjawab poin substansi yang kami bawa” ujar beliau. Audiensi ini dinilai tidak memuaskan bagi kawan-kawan dari perwakilan mahasiswa, dikarenakan jawaban rektorat yang masih “ngambang” dan mengingat juga tidak tercapainya tuntutan, “Masih ngambang dan rektorat tetap dengan siaran pers ini, begitupun dengan 3 poin aspirasi kita tidak terjawab.” Terkait dengan tindak lanjut sehabis digelarnya audiensi kali ini, wisnu menuturkan “Keberlanjutan ini masih akan terus kita follow up sih, mau seperti apa arah bekerja pihak univ itu yg akan terus kita kawal berkaitan dengan kebijakan kampus dimasa pandemi.”. Hal senada juga diungkapkan oleh Adhwa (mahasiswa FH angkatan 2019), ia merasa belum puas dengan audiensi yang telah digelar, “Enggak (puas), masih gantung. seperti rektorat ngadain audiensi biar ga ribut aja mahasiswa nya.” ungkapnya. Beliau juga berharap pihak rektorat dapat melakukan aksi nyata dengan lebih meningkatkan trasnparansi, “Harapanku rektorat ga ngomong doang, tapi ada aksi nya juga, kalopun ga balikin UKT atau subsidi kuota ya gunain UKT nya buat yang bener, misalnya perbaikin AC di fakultas, perbaruin gedung. tapi harus ada transparansi nya juga. setidaknya mahasiswa dikasih tau ukt buat apa aja, uang pangkal juga gatau buat apa kan, kalo digunain bener aku yakin mahasiswa nya bakal ngerti.” jelasnya.
Untuk kedepannya pihak BEM Unsoed masih akan terus memfollow up terhadap kebijakan kampus di masa pandemi ini, dan juga fokus pada pola advokasi, seperti yang dijelaskan oleh Wisnu, “Follow up trhdp kebijakan fakultas seperti pemberian bantuan kuota bagi mhs gol ukt 3-8, follow up trhdp kebijakan penyesuaian ukt spt apa dimasa pandemi covid. Sejauh ini paling spt itu.” jelas Wisnu. Beliau juga menjelaskan terkait dengan ada atau tidaknya aksi susulan kedepannya. ” Untuk kedepannya dari kita bem unsoed akan fokus terhadap pola advokasi saja dan lebih memfollow up kebijakan kampus, untuk propaganda seperti itu tergantung kebijakan bem fakultas masing2.” jelasnya. Mengingat poin tuntutan yang belum terpenuhi, Wisnu juga menjelaskan, belum disepakati akan diadakannya dialog lanjutan dengan pihak rektorat atau tidak, “Belum, nanti akan terus kita komunikasan dengan elemen fakultas.” “Tergantung kesepakatan bersama nanti gimana baiknyaa.” lanjut Wisnu.
Pada hari kamis, 21/05/20, BEM Unsoed juga telah mengeluarkan press release terkait audiensi ini, menurut press release nya, BEM Unsoed menjelaskan, “Secara garis besar, penyelenggaraan Audiensi ini dirasa kurang menjawab keresahan mahasiswa karena belum ada keputusan konkret yang dihasilkan. Banyak kebijakan yang justru dilempar kepada pihak fakultas, dan belum ada kebijakan yang menyesuaikan dengan keadaan di masa pandemi COVID-19. Namun pengawalan hasil dari diadakannya audiensi ini terus berlanjut dan akan terus dikawal, diikuti dengan follow up dari masing-masing fakultas.” dilansir dari https://t.co/3JbiqHOa2n.

Terlihat sudah ada itikad baik dari pihak rektorat terkait dengan pemberian bantuan pulsa sebagai sarana pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19 bagi mahasiswa UKT level III-VIII dengan dikeluarkan SK Rektor Universitas Jenderal Soedirman Nomor 941/UN23/RT.04.04/2020. Namun, hal ini merupakan satu dari beberapa hal yang menjadi tuntutan pada aksi media yang dilakukan beberapa waktu lalu. Tidak kalah pentingnya, hal-hal lain yang menjadi tuntutan seperti transparansi penggunaan anggaran baik UKT dan dana KKN yang kemarin sempat disinggung dalam audiensi belum juga menemukan titik terang. Jika ditelisik jauh ke belakang, hal-hal seperti transparansi anggaran hampir selalu menjadi salah satu tuntutan ketika ada aksi mahasiswa di Unsoed, sangat disayangkan hal ini pun terkadang cepat menguap dan menghilang selaras dengan berakhirnya aksi.

LPM PRO JUSTITIA
TRANSFORMASI IDE & OBJEKTIFITAS
Narator : fahmi
Reporter : rania/fahmi
Editor : ican

Gambar : twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published.