Pandemi Belum Surut, Fakultas Hukum Unsoed Gelar Acara Pengenalan Mahasiswa Baru 2020 Secara Online

Pandemi Covid-19 yang masih meningkat perjangkitanya membuat aktivitas dalam ranah pendidikan tinggi kembali dilaksanakan daring. Tidak terkecuali metode penerimaan mahasiswa baru tahun 2020 yang haru mampu berdamai dengan situasi yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan sebagaimana lazimnya. Dengan situasi seperti ini pelaksanaan masa pengenalan kampus tidak mungkin dilaksanakan seperti  biasa, oleh karenya konsep ospek atau pengenalan kampus dirancang ulang untuk mampu dilaksanakan secara daring. DI Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Pengenalan Kegiatan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) yang dilaksanakan di Fakultas Hukum bertepatam pada tanggal 10-12 September 2020 lalu. Lantas  yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana acara pengenalan kampus yang dianggap sebagai pintu gerbang bagi mahasiswa baru ini untuk masuk ke dalam dunia perkuliahan mampu dilaksanakan sesuai dengan tujuan dengan pelaksanaanya walaupun dilakukan secara daring?

LPM Pro Justitia mewawancarai Ketua Divisi Acara Pengenalan Kegiatan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Hukum, Syahrul Abiyyu untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan PKKMB secara daring ini berlangsung. Menurut penuturanya, panitia berpikir keras untuk merancang acara melalui live streaming yang berbeda dengan tahun sebelumnya yang dilaksanakan secara tatap muka. PKKMB kali ini dilaksanakan dengan menggunakan platform Zoom Meeting. Syahrul menjelaskan bahwa persiapan acara berlangsung selama satu bulan lebih dengan jumlah panitia 60 orang. Ia menjelasakan “Persiapannya yaitu 1 bulan lebih dari bulan Juli dengan kendala yaitu jarak awal awal yaitu rapat melalui online tidak fisik dari situ dengan adanya keterbatasan waktu dan sinyal kita harus berpacu bergerak melawan itu semua sehingga kita bisa melakukan PKKMB dan Alhamdulillah acaranya lancar.” tutur Syahrul. Di hari pertama PKKMB beberapa mahasiswa baru juga  hadir secara langsung di kampus. Mereka yang hadir tersebut berdomisili di Purwokerto. Pemilihan mahasiswa baru berdomisili Purwokerto ini dikarenakan panitia tidak ingin mengambil resiko dengan mewajibkan mahasiswa baru dari luar kota untuk datang. Panitia melaksanakan kegiatan PKKMB dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Syahrul menjelaskan, “Kita tetap menggunakan protokol kesehatan yakni  dengan menjaga jarak antar indivu sejauh 2 meter baik bagi panitia, pembicara, maupun peserta. Sebelum mereka (peserta) datang kami tes suhu dulu kami kasih handsanitizer dan masuknya secara terpisah. Bagi yang tubuhnya bersuhu lebih dari 37 derajat tidak boleh masuk dan juga di wajibkan memakia masker. Kami wajibkan setiap panitia peserta ataupun pembicara hadir dalam venue acara harus tetap menggunakan masker tetap mengikuti protokol kesehatan.” Pungkasnya.

Dengan metode daring yang membuat mahasiswa tidak mampu datang secara langsung ke kampus dan berinteraksi dengan mahasiswa lainya membuat acara ini cenderung memberikan pengalaman dan manfaat yang berbeda. Syahrul menjelaskan bahwa pelaksanaan PPKMB daring ini tidak menghilangkan esensi dari masa orientasi kampus yaitu untuk mengenalkan lingkungan kampus fakultas hukum, pengenalan dosen, bagaimana pergaulan di fakultas hukum. Panitia merancang konsep PKKMB yang mampu mengenalkan kampus dan juga hukum itu sendiri. Dengan adanya PKKMB yang diadakan secara daring ini diharapkan mahasiswa baru mampu mengetahui beberapa hal yang berkaitan dengan perkuliahan di fakultas hukum. “Outputnya walaupun daring walaupun mereka tidak secara langsung melihat kampus fakultas hukum mereka tetap mengetahui dimana-mana saja gedung-gedung FH bagaimana budaya FH siapa dosen-dosennya siapa pejabatnya walaupun mereka daring dan belum pernah sama sekali ke FH  dengan adanya PKKMB  secara online ini mereka bisa sedikit mengetahui atau mereka mungkin sudah mengetahui seluk beluk tentang FH” jelas Syahrul. Menurutnya, indikator yang mereka tentukan untuk keberhasilan PKKMB dilihat dari jumlah peserta yang mengikuti dan minat peserta dalam mengikuti acara. “Yang dijadikan parameter pkkmb tahun ini yaitu adalah jumlah peserta yang mengikuti dan juga hype dan vibes PKKMB itu sendiri. Gimana keseruan mereka minat mereka terlihat dalam acara ini. Kita berusaha sekuat mungkin walaupun online tetap seru dan tidak boring sama sekali dan itu Alhamdulillah berhasil.”jelas Syahrul sekaligus mengklaim keberhasilan acara.

Dengan anggapan bahwa masa orientasi atau pengenalan kampus merupakan tahapan pertama yang ditempuh mahasiswa baru untuk mulai menapaki dunia perkuliahan, mahasiswa baru sendiri memiliki ekspektasi yang berbeda akan pelaksanaan PKKMB. Alya, salah satu mahasiswa baru Fakultas Hukum mengungkapkan bahwa ia berharap PKKMB ini dapat memberikan gambaran seperti apa fakultas hukum dan juga bagaimana organisasi-organisasi di kampus, apakah berbeda jauh dengan SMA atau tidak. Sementara itu Rizki, yang juga salah satu mahasiswa baru Fakultas Hukum, berharap bahwa PKKMB dapat mengenalkan mahasiswa baru pada kampus dan sejarahnya, civitas akademikanya, dan juga apa saja yang ada di fakultas hukum. “Selain itu saya juga berharap adanya ospek kemarin mahasiswa baru bisa lebih kompak dan solid walau (ospek) lewat daring” ujar Rizki. Mengenai informasi seputar perkuliahan yang seharusnya menjadi inti dari pengenalan kampus ini, keduanya merasa informasi tersampaikan dengan cukup jelas. “Untuk Informasi mengenai perkuliahan cukup jelas. Cuma ada aja info yg sulit dipahami ya mungkin karena tahun ini daring jdi ga bisa nanya nanya banyak. Kebanyakan mahasiswa panik akibat penyebaran informasi tidak merata,  karena ada aja yang sinyalnya jelek pas ada informasi tentang perkuliahan jadi ga ikut, dan lain sebagainya” jelas Rizki. Dengan metode daring yang baru pertama kali dilakukan, kendala sinyal sudah tentu dihadapi mahasiswa baru dalam mengikuti PKKMB. Baik Rizki dan Alya sama-sama mengeluhkan soal sinyal yang terkadang menganggu tersampaikanya informasi penting pada mahasiswa baru.

Masing-masing dari mereka merasa PKKMB kemarin seru dan cukup memenuhi ekspektasi mereka walaupun terdapat beberapa hal yang dirasa kurang. “Kurang puas aja karena ngga ospek langsung”, tutur Alya. Rizki juga merasa PKKMB daring ini kurang memberikan kesan. Kegiatan yang berlangsung dengan hanya menonton live streaming acara dari rumah masing-masing membuat mahasiswa tidak dapat merasakan secara langsung jalanya pengenalan kampus ini. Di sisi lain keduanya merasa PKKMB ini mampu memberikan mereka cukup pengenalan mengenai kampus, pembelajaran, dan juga UKM yang membuat mereka merasa memiliki bekal untuk memulai perkuliahan. “Tentunya terdapat beberapa hal yang perlu diperbaiki dari penyelenggaraan PKKMB ini seperti yang dikemukakan Rizki, “Untuk masukan,  kegiatanya harus lebih menarik lagi, terus penyampaian informasi  ukm, dan lainya  kalau boleh  ada video nanti di share ke grup maba untuk menghindari error. Tapi semoga tahun depan ga daring jadi lebih seru lagi.”

PKKMB Fakultas Hukum kemarin mampu terselenggara dengan metode daring walaupun beberapa kendala khususnya teknis  dalam proses live streaming dan sinyal sulit dihindari. PKKMB melalui daring ini memberikan pengalaman baru baik bagi mahasiswa baru, panitia, dan mahasiswa baru Fakultas Hukum. Dengan metode daring yang membatasi pertemuan secara langsung mahasiswa baru membuat kebiasaan yang biasa dilakukan dalam ospek biasanya menjadi sulit dilakukan. Setidaknya PKKMB secara daring ini menjadi  pengingat bagi seluruh civitas akademika untuk kembali memikirkan dan menerapkan esensi sebenarnya dari adanya agenda pengenalan kampus.

Catatan Redaksi : Berita ini pertama kali diunggah pada tanggal 18 September 2020 di situs web lama LPM Pro Justitia, kemudian diunggah ulang ke situs web ini. Tanggal diunggahnya berita pada situs web ini bukan tanggal sebenarnya berita dikeluarkan.

LPM PRO JUSTITIA

TRANSFORMASI IDE & OBJEKTIFITAS

Reporter : Ican/Luthfiah

Narator : Rania

Editor : Ican

Leave a Reply

Your email address will not be published.