Sorot Kebijakan Pemerintah Dalam Momentum Kuliah Umum

Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman membentangkan poster bertuliskan “MY Pertamina Apakah Solusi?”. Dalam acara “Kolaborasi BUMN dan Perguruan Tinggi (PT) dalam Menciptakan Generasi Digital di Era Disrupsi”

Purwokerto, Selasa (05/07/2022) Universitas Jenderal Soedirman menggelar acara kuliah umum yang dihadiri oleh mahasiswa Unsoed  di Graha Widyatama bersama tokoh nasional dengan tema “Kolaborasi BUMN dan Perguruan Tinggi (PT) dalam Menciptakan Generasi Digital di Era Disrupsi” yang dibawakan  oleh Erick Thohir  selaku Menteri BUMN. 

Dalam kuliah umum tersebut ada aksi yang mendapat sorotan, yakni ketika closing oleh pembicara pada pukul 11.45 WIB, terdapat sekelompok partisipan yang mengangkat banner dan poster bertuliskan “MyPertamina apakah solusi”, “Dilarang bermain HP selain MyPertamina”, dan sebagainya. Kelompok yang menyuarakan aspirasinya tersebut adalah Aliansi Soedirman Resah.  “Aliansi Soedirman Resah, seperti namanya saja memang kita bergerak dari keresahan keresahan yang dirasakan oleh sekelompok mahasiswa Unsoed” kata Arfian salah satu dari aliansi tersebut.

Menurut Arfian, tujuan dari aksi aliansi tersebut adalah untuk mengutarakan keresahan terhadap kebijakan pemerintah. “Tujuan dari gerakan ini untuk menyampaikan keresahan kita khususnya terkait dengan kebijakan pemerintah yang kita anggap mempersulit akses masyarakat untuk memperoleh barang barang subsidi seperti BBM ataupun minyak goreng. Kita semua tau pemerintah melalui pertamina sedang menguji coba konsep pembelian BBM subsidi menggunakan aplikasi MyPertamina di beberapa provinsi di Indonesia. Dari Aliansi Soedirman Resah mempertanyakan apakah dengan aplikasi tersebut bisa menyelesaikan masalah atau justru mempersulit masyarakat kecil yang belum tersentuh teknologi gadget. Aksi pembentangan poster yang kita lakukan ini bukanlah aksi reaksioner, kita sudah mengkaji isu aksesibilitas bahan subsidi sejak lama, lalu bertemu momen adanya kuliah umum dari Bapak Erick Tohir. Kita memanfaatkan ruang-ruang itu untuk menyuarakan keresahan kita”, ujar Arfian.

Bentuk dari aksi tersebut adalah pembentangan banner atau poster dan pembagian selebaran berisi kajian berjudul “Polemik MyPertamina dalam Distribusi BBM”. Secara singkat kajian tersebut memuat  bahwasanya BUMN sebagai lembaga yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera dalam berbagai sektor sehingga kebijakan yang dikeluarkan pun semestinya berpihak pada rakyat. Dalam kajian tersebut menyorot kebijakan BUMN mengenai penggunaan aplikasi My Pertamina terhadap pembelian BBM jenis Pertalite dan Solar yang dianggap perlu adanya peninjauan ulang.

Aksi pembentangan banner tersebut tentu mendapat reaksi dari partisipan lain. Arfian berpendapat, “Kalau reaksi dari mahasiswa lain setelah kita membentangkan banner atensinya sudah ke kita. Namun tidak ada 2 menit, sepertinya dari pihak penyelenggara merebut paksa banner dan poster yang kita bentangkan. Kita sebenernya sempat melawan karena kita menganggap ini ruang akademis dan kita berhak menyuarakan keresahan keresahan kita. Namun tetap saja dari pihak penyelenggara merebut paksa banner dan poster. Beberapa kawan juga digeledah oleh pihak penyelenggara”.

Arfian juga menambahkan, “Kita berharap ke depannya dari aksi ini membuka kacamata mahasiswa jika mahasiswa harus mempunyai rasa kepekaan terhadap isu-isu yang berkembang dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang bisa mempersulit masyarakat kelas bawah. Mahasiswa juga harus berani berekspresi menyuarakan keresahannya itu melalui ruang-ruang publik yang ada. Aliansi Soedirman Resah ini terbuka bagi seluruh mahasiswa Unsoed yang mempunyai keresahan dan mau untuk mengekspresikannya”.

LPM PRO JUSTITIA

TRANSFORMASI IDE & OBJEKTIFITAS

Reporter : Firstha

Penulis : Pratiwi

Editor : Rafi

Leave a Reply

Your email address will not be published.